PIMPINAN CABANG
PEMUDA MUSLIMIN INDONESIA
KABUPATEN TAKALAR 2016 - 2019
| Sebersih-Bersih Tauhid | Setinggi-Tinggi Ilmu | Sepandai-Pandai Siyasah |

Pertemuan Hati


Bertempat di ruang kerja Rektor Universitas Cokroaminoto Makassar, Sabtu siang 12 Nopember 2011, saya menemuinya dalam perjumpaan yang begitu sederhana. Ditemani sekaleng biskuit dan beberapa gelas air mineral kami berbincang dalam suasana yang begitu guyub, dan diselingi dengan guyonan cerdas.

Kami datang dari generasi yang berbeda, namun kami disatukan dalam satu jama’ah dengan ikatan yang kukuh, iman dan Islam. Beliau adalah tokoh utama dalam organisasi tempat saya bekecimpung sekarang, sedangkan saya hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang bergiat untuk Islam dalam bimbingan beliau.

Rambutnya sudah memutih, wajahnya yang teduh dengan janggut menghiasi dagu, menunjukkan kematang pengalamannya dalam jagad kaum pergerakan. Janggutnya yang juga sudah memutih mengingatkan saya pada K.H. Agus Salim, pimpinan kedua SI setelah H.O.S Tjokroaminoto.

Dalam perjumpaan yang singkat itu, beliau menekankan tentang pentingnya silaturahmi bagi kelancaran roda organisasi. Inti silaturrahim yang dimaksud oleh beliau adalah pertemuan hati, “silaturahmi itu penting, tapi yang lebih penting dari itu adalah bertemunya hati-hati kita, yang lahiriah ini cuma permainan”, ujarnya dengan suara pelan.

“Agar organisasi ini bisa baik, maka setiap kita harus mengerti posisi dan porsi masing-masing. Yang tua harus mengerti, tugas mereka adalah menata dan mengarahkan yang muda, dan yang muda juga harus mengerti bahwa mereka itu akan menjadi penggerak aktivitas persyarikatan di kemudian hari”, sambungnya.

Baginya, bergiatnya para pemuda dalam aktivitas organisasi merupakan salah satu kunci utama bagi kebesaran organisasi ke depan, “memang kita lebih berharap pada para pemuda, coba lihat itu gaya orang-orang tua ya begitu, niatnya semua baik, tapi banyak lika-likunya”.
“Saya menasehatkan kepada para pemuda mengenai dua hal, perkuat perkaderan dan ekonomi. Bagi kaum pergerakan, kalau ekonominya kuat, maka berorganisasinya tentu akan menjadi lebih enak. Tapi kalau ekonominya lemah, berorganisasinya akan menjadi repot”, jelasnya.

Kemudian lanjutnya, “Inti perkaderan yang tak bisa dilupakan adalah trilogi Tauhid, Ilmu, dan Siyasah. Trilogi ini harus ditanamkan dalam kepribadian kader. Tauhid bertujuan untuk membentuk kader yang berakhlak baik, ilmu diperlukan agar kita mengerti mengenai hukum, dan inti dari siyasah kita adalah dalam bentuk amal ibadah”.

“Bagaimana kita mau menegakkan hukum kalau kita tidak dengan tegas membedakan yang benar dan yang salah? Bagaimana bisa kita membedakan yang benar dan yang salah kalau kita tidak memiliki ilmu tentang hal tersebut?” Ungkapnya dengan pertanyaan retoris yang mengena.

Pada kesempatan tersebut, beliau mengingatkan tentang pentingnya belajar beternak, “banyak pelajaran yang bisa diambil dengan beternak dan dari binatang ternak”. Anjurannya tersebut membuat saya menerawang kepada Rasulullah Muhammad SAW, bukankah beliau juga merupakan seorang penggembala sebagaimana moyangnya, Nabi Ibrahim AS?

Sayang sekali, pada kesempatan singkat tersebut saya tidak sempat berfoto bersamanya. Namun saya tak berkecil hati, kembali terngiang nasehatnya, “yang lebih penting dari itu adalah bertemunya hati-hati kita, yang lahiriah ini cuma permainan”.

Sebelum berpisah, beliau mengulurkan selembar kartu nama, di situ tertulis jelas namanya, H. Muhammad Mufti, Presiden Lajnah Tanfidziyah DPP Syarikat Islam Indonesia. Masih sempat saya mencium kedua tangannya ketika kami berjabat tangan di penghujung perjumpaan.

(Ketua Umum Pimpinan Cabang Pemuda Muslimin Indonesia Kabupaten Takalar)
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : TurungkaNews | ArusMudaNews | Makassar Book Review | Komunitas Pena Hijau | PB PemudaMuslim | PW Sulsel
Copyright © 2017 - PC Pemuda Muslimin Indonesia Kab. Takalar - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Published by Cargam Template
Proudly powered by Blogger