PIMPINAN CABANG
PEMUDA MUSLIMIN INDONESIA
KABUPATEN TAKALAR 2016 - 2019
| Sebersih-Bersih Tauhid | Setinggi-Tinggi Ilmu | Sepandai-Pandai Siyasah |

Belajar Menulis Di Malam Minggu

“Karya tulis, secara umum terbagi menjadi 2 jenis yaitu karya tulis fiksi dan non fiksi.
Yang membedakan keduanya adalah cara menceritakan sebuah fakta, karya tulis fiksi menceritakan fakta secara elegan (seenak pengarang) untuk membuat karya itu menarik,” demikian jelas Ahmad Rusaidi, S.Pd.I yang menjadi pemateri kajian malam mingguan Pemuda Muslimin Indonesia Cabang Takalar.

Kegiatan ini merupakan salah bentuk ikhtiar Pemuda Muslimin Indonesia Cabang Takalar untuk menanamkan jiwa intelektualisme pada diri kader-kadernya.

Masih menurut Ahmad, “Lebih lanjut, karya fiksi biasanya berbentuk Cerpen, novel, roman, puisi, pantun, komik dan lain sebagainya. Sedangkan karya tulis Non fiksi menceritakan fakta sesuai apa adanya.”

“Contoh sederhananya, fakta adanya ular, adanya ceker, dan sayap. Kemudian penulis berimajinasi membuat seekor binatang yang berkepala ular, berceker dan bersayap, inilah kerjanya penulis fiksi, sedangkan penulis non fiksi akan menceritakan hal yang sebenarnya, bahwa ular adalah binatang melata dan bertubuh panjang, tidak mungkin memiliki ceker apalagi sayap.”

Kemudian jika kita ingin menulis karya tulis ilmiah non fiksi baiknya harus ada observasi dan penelitian sehingga menghasilkan kesimpulan yang jelas. Perlu diketahui bahwa untuk menulis makalah haruslah ada masalah yang telah dirumuskan untuk dijadikan pegangan, sehingga dalam penulisan tersebut menjadi tulisan sistematis.

Setelah penjelasan dari narasumber, peserta kajian kemudian ditanya hal-hal apa yang ingin diteliti? Khaliq sebagai peserta langsung menjawab bahwa yang ingin ditelitinya adalah budaya. Setelah itu Ahmad menjelaskan bahwa untuk penelitian tentang budaya maka kita harus mengetahui bahwa masalah apa yang kita temui dalam budaya kita di Takalar?

Maraknya karya ilmiah palsu yang tidak bersumber dari sebuah usaha nyata seorang yang katanya terdidik, plagiasi dan usaha curang lainnya membuat Saharuddin S.Pd.I salah seorang pegiat literasi geram, dan mengeluarkan umpatannya, "Sesungguhnya, kesejatian pemuda, pelajar dan mahasiswa adalah idealismenya. Ketika itu dihianati, termasuk membuat karya yang curang maka baginya adalah jahannam." Geramnya dengan nada bergetar.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : TurungkaNews | ArusMudaNews | Makassar Book Review | Komunitas Pena Hijau | PB PemudaMuslim | PW Sulsel
Copyright © 2017 - PC Pemuda Muslimin Indonesia Kab. Takalar - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Published by Cargam Template
Proudly powered by Blogger